Kamis, 17 April 2008

Manado, si Seksi di Utara Mutu Manikam

( Liburan sambil Dinas ke Manado, 19-23 September 2005 )


“Kalau ke Manado, jangan lupa nikmatin tiga B ya, Bubur Manado, Bunaken dan Boulevard...Kalau beruntung kamu bisa dapet dua B lagi..(apa hayoo..gw ngga mau nerusin ah...rada porno soalnya..heheh)

Beruntung sekali, baru dua bulan kerja di Denpasar, aku sudah dapet tugas ke salah satu kota tercantikdi Indonesia, Manado. Siapa sih yang tidak ingin ke Manado, temen-temen sekantor semuanya pda ngiri dan sirik..kecuali yang dapet tugas ke Padang (kalo itu gw yang sirik...scr kan gw bisa sekalian mudik klo ke padang.

Perbangan dari Denpasar ke Manado sangat menyenangkan. Dari Ngurah Rai, rombongan menaiki pewasat Garuda Indonesia (psstt..itu pertama kali gw naik garuda..hehe) dan terbang melintasi sisi timur pulau Bali dan bertolak kearah utara menuju transit pertama kami, bandara Hasanudin Makasar.

Tak berapa lama di Makasar, tapi gw sempat window shopping di beberapa toko souvenir di sana. Beberapa ukiran khas Toraja dan Peci Bugis telah menarik perhatian gw. Tapiga sempat belanja scr baru mulai nawar pesawat udah mau berangkat lagi ke Manado. So..Garuda, fly to Manado...

Beberapa menit sebelum landing, gw puas-puasin menikmati view kota ini dari udara. Jejeran pohon nyiur sudah menyambut kami. Bandara Sam Ratulangi ternyata berada diatas perbukitan. Unik juga, karena rata-rata bandara biasanya berada dekat laut seperti bandara Ngurah Rai dan Bandara Minangkabau di Padang. Suasa asri dan segar menyambut kami begitu menginjakkan kaki di bumi Minahasa.

Dipintu keluar,kami sudah disambut Om Piet (sebenarnya gw lupa namanya si Om, tapi pake nama Piet aja, biar Manadonya berasa..hehehe) yang siap mengantar kami menuju hotel. Kalau dari jalan kota Manado terlihat biasa. Sekilas mirip kota Bandar Lampung. Kota diata sbukit yang ada di pinggir lait. Sedikit berantakan sih, tapi karena hamparan biru laut di teluk Manado yang sesekali mengintip, jadi ketutup deh kekacauan kotanya.

Tapiyang paling indah disini adalah gadis-gadisnya yang...seksi...Ha O Te dehhh.

Gw udah 5 tahun di Bandung yang katanya Paris panJava, yang cewek-ceweknya terancam cakep semua. Tapi gadis Manado punya appeal yang berbeda, mata ma leher gw sampe pegel noleh kanan kiri ga rela peandangan indah berlalu begitu saja di depan mata.

Lucky me...gw nginap disalah satu hotel (damn..lagi-lagi gw lupa nama hotelnya) yang kebetulan tempat nginapnya kontestan Nyong Nona Sulawesi Utara. Kebayang dong, cewek-cewek tercakep se antero Minahasa berseliweran di depan mata gw...sakit leherrrrr...hahahahaha.

Malam sebelum tugas di Manado, saya menyempatkan diri menikmati tongkrongan murah meriah anak muda di kota Manado, Boulevard di Jl Kapten Tandean. Tepatnya ini adalag komplek pertokoan yang didiran persis di bibir teluk Manado. Miri-mirip dengan pantai Losari di Makasar. Seru juga,ternyata anak muda Manado pinter dandan dan suaranya oke punya semua. Gw sempat menikmati suara band lokal yang lagi manggung di Boulevard waktu itu.

Dua hari berikutnya adalah saat-saat yang ga perlu gw ceritain, nothing special but work and job. So, I skipped it, and we just go straight to other traveling journey.

Jum'at pagi, setelah negosiasi alot dengan temen-temen kanor, akhirnya Bunaken disepakati sebagai destinasi akhir yang ingin dicapai. Rekan gw yang dinas di Manado, Insan sudah siap di depan lobi hotel ngantar kita ke pelabuhan.

Singkat cerita, sampailah ktia di pelabuhan Manado. Kita-ktia sengaja ngga turun dari mobil dan menyerahkan urusan tawar menawar perahu ke Om Piet, tentu saja dengan bahasa ngana-ngana nya..hehe

BUnaken....surga bawah laut yang begitu cantikk. KAlau gw analogikan, BUnaken itu ibarat kebun bunga yang terhampar di padang luas di bawah permukaan laut. Terumbu karangnya berwarna warni, ikannya juga berwarna warni, jinak. Awalnya gw suprised bgt melihat Nemo si Clown Fish main-main jempol gw, tapi lama-kelamaan jadi biasa secara ada ribuan ikan berwarna warni yang mengerubunin loe. Hmm...yummy..ops..salah, cantikk

Sebearnya ada beberapa spot penyelaman yang jauh lebih bagus dari tempat gw berenang. Ada pulau gangga, pulau manado tua dan selat lembeh di bitung. Tapi buat pemula kayak gw, Bunaken udah the best nya lah. Matahariudah diubun-ubun ga kerasa. Kita nyadar udah siangan karena gelombang udah mulai gede, jadi pada naik semua dan menepi ke pulau Bunaken.

Tenyata di Bunaken ada penduduknya. Ada penduduk Muslim dan Kristen yang satu sama lainnya hidup berdampingan dan damai. Pulau Bunaken sendiri biasa aja menurut gw, hanya pemandangan biru laut, gunung Manado tua dan Pulau Sulawesi serta siluet bangunan di kota Manado menyuguhkan perpaduan pemandangan yang maha indah. Ohya, di Bunaken gw ma temen-temen makan pisang goreng pake sambel..aneh ya..tapi itulah Indonesia, aya-aya wae

Sepulang dari Bunaken, karena hari masih siang, rombongan diberikan dua pilihan. Mau ke danau Tondano atau BUkit kasih. Sebearnya kalau masih pagi, kita bisa melewati danau tondano sekaligus ke bukit kasih. Tapi secara sudah agak sorean kami harus memilih.

Secara dikampung gw udah banyak danau yang cantik-cantik, akhirnya gw ngomporin anak-anak memilih Bukit Kasih. Dan berhasil..!!! modil kemudian melaju ke dataran tinggi Minahasa, menuju bukit kasih. Sepanjang perjalanan kami melihat bany7ak gereja, rumah-rumah khas Minahasa, cewek-cewek manado yang kinclong kayak marmer itali dan berambut kepirang-pirangan, serta Gunung Lokon yang menyapa kami begitu sampai di Tomohon, Manado.

Sebenarnya Bukit Kasih adalah daerah perbukitan yang ditemui sumber air panas, belerang serta uap panas. Di sini juga dipercaya sebagai awal mulka turunnya nenek moyang orang Manado, Tu ur dan Limimut (maaf ya alao salah nyebut). Disini juga dijadikan wisata iman, dengan dibangun lima tempat ibadah untuk 5 aam, Islam, kristen, katolik, Hindu, dan Buddha. Masing-masing tempat ibadah dibatasi ribuan anak tangga. Gileee..gempor juga gw mendaki bukit kasih...

Tapi hawa yang sejuk dan pemandangan yang bagus membayar senua keletihan tersebut.

Besoknya, kami kembali ke Denpasar. Berbeda dengan waktu pergi, kembali ke Makasar muka gw ditekuk, coz gw harus naik pesawat yang abal-abal yang dari dulu gw ogah naikin. Tapi cuma itu pesawat yang murah meriah ke Denpasar. Perjalanan sekitar 3 jam, transit 1 jam di HAsanuddin yang ga gua sia-siain dengan belanja cendera mata di bandara. Baki ukiran khas toraja dan peci Bugis. Baki dan Peci langsung gw drop ke Padang, ke ortu.

Bali, I am home....



regards

Tidak ada komentar: